Cerita Rakyat
Kekayaan
adat istiadat bangsa Indonesia tidak terhitung banyaknya, dan ini merupakan
warisan yang perlu dipelihara seterusnya. Salah satu kekayaan tersebut tercermin
dari sebuah cerita rakyat Aceh Tamiang yang hampir dilupakan.
Beberapa
waktu yang lalu, pementasan cerita rakyat ini dimainkan oleh para siswa SLB
Negeri Pembina Aceh Tamiang dalam acara Ajang Kreasi Pelajar Tamiang 2010.
Berikut
Pertikan Cerita Tersebut.
Para
pemain :
1.
Suminar sebagai Emak
Dubbing by : T. Zuraidah
2.
T.Sari Novianti sebagai Ulong
Dubbing by : Fauziah
3.
Candra Irawan sebagai Ngah
Dubbing by : Hasan Bukhari
4.
sebagai Alang
Dubbing by : Khairunnas
5.
Yolanda sebagai Uteh
Dubbing by : Amy, S.Pd
*)20 abad yang
lalu disebuah desa terpencil hiduplah seorang Janda bersama 4 orang buah hatinya.
Janda tersebut hidup dengan serba kekurangan tanpa harta maupun pusaka dari
Almarhum suaminya. Hari-hari dilaluinya dengan kepedihan dan derai air mata
untuk menafkahi ke 4 buah hatinya, ia harus pergi kehutan untuk mengumpulkan
kayu bakar dan menjualnya kepasar(*
Pada suatu hari..........
(di dalam rumah
panggung kosong, Emak sedang bersiap hendak kehutan)
Emak
: Ulong!!, sinilah sebentar, emak mau bicara.
Ulong
: ada apa mak?
Emak
: Begini, emak mau kehutan mencari kayu untuk dijual kepasar, tolong kau jaga
adik-adikmu. Jangan biarkan mereka main kesungai. Jika mereka lapar tolong kau
tumbukan kerak nasi yang yang diberi oleh Mak Andak, terus kau bubur saja dan
berikan pada adik-adikmu.
Ulong
: Baik Mak, sampai kapan kita harus makan kerak nasi seperti ini Mak..??.
kasihan adik-adik, mereka sering menanyakan mengapa kita tidak pernah makan nasi
pakai ikan seperti anak Mak Andak..
Emak
: Emak juga bingung Long, setiap hari Mak kehutan tapi uang yang Mak dapat tidak
cukup untuk membeli beras, makanya Mak selalu membeli kerak nasinya Mak Andak.
Ulong
: Ulong tau Mak, bagaimana kalau Ulong bekerja saja biar bisa membantu Emak.
Emak
: Jangan Long...., kau masih terlalu kecil, biarlah Emak yang bekerja, kau
dirumah saja menjaga adik-adikmu. Sudahlah Long, tak ada habis-habisnya jika
kita membicarakan derita ini, Emak berangkat dulu ya..........
Ulong
: Ya, Mak.
(Emak pergi
menuju hutan, Ulong menumbuk kerak nasi didapur).
*)Sungguh malang
nasib keluarga ini, setiap harinya mereka hanya makan bubur kerak nasi, derita
yang mereka hadapi tidak tahu entah sampai kapan akan terhenti(*
Ngah
: Long! masak apa tu? Bubur kerak nasi lagi ya??. Duuhh..., aku bosan Long
setiap hari makannya itu saja. Kenapa sih Emak jahat sama kita?
Alang
: Ya Long, pokoknya aku tidak mau makan bubur kerak nasi lagi.
Uteh
: (Menangis) Long!! lapar ni..., aku pengen makan nasi seperti mereka.
Ulong
: Adik-adikku, Emak sudah berusaha mencari uang buat makan kita, tapi uangnya
tidak cukup, makanya Emak membeli kerak nasi agar kita bisa makan. Kita harus
bersyukur, dengan demikian Allah akan menambah rezki buat keluarga kita.
Ngah
: Ah, Ulong bohong!sudah setiap hari aku bersabar tapi mengapa kita tidak kaya
jugaseperti mereka??
Ulong
: Tidak boleh kau berkata seperti itu, Allah akan marah.
(Ngah pergi,
Alang dan Uteh menangis sambil memegang perutnya)
*)Ngah memang
kasar, tidak seharusnya dia berkata demikian, kasihan Ulong sudah susah ditambah
lagi perlakuan kasar dari adik-adiknya(* (Ulong mengajak adik-adiknya makan,
panggung kosong..)
*)Sementara itu
Emak tanpa mengenal lelah, terus mengumpulkan kayu bakar dan menjualnya ke pasar(*
Sesampai
dirumah......
Emak
: Assalamu’alaikum......., Long, Ngah, Alang, Uteh... dimana kalian?? Emak sudah
pulang ni..
(Alang dan Uteh
berlari mendekati Emak, disusul dengan Ulong yang berjalan sambil memegang sapu)
Alang
: Mak!!, Alang kepingin makan buah apel...
Uteh
: Ya, Mak!,Uteh juga kepingin.
Emak
: Anakku sayang, bukannya Emak tidak mau membelikan kalian buah apel, hari ini
saja Emak tidak dapat uang, mungkin hari ini kita tidak bisa makan.
Ulong
: Sudahlah Mak, jangan sedih, kami bangga kok dengan kerja keras Emak.
Ngah
: Apanya yang bangga!!, aku pengen jadi orang kaya, hidup mewah seperti orang
lain, tidak susah seperti ini.
Ulong
: Ngah!!, tidak pantas kau bicara seperti itu kepada Emak, cepat minta maaf!!!
Emak
: Sudahlah tidak apa, ini semua memang salah Emak, Emak tidak bisa membahagiakan
kalian. Maafkan Emak anakku.
(Sambil menangis
Emak membelai ke 2 anaknya yang masih kecil)
*)Haripun sudah
senja, sedangkan didapur Ulong bingung harus mempersiapkan makanan apa buat
adik-adiknya(*
Ulong :
Ya Allah, apa yang harus ku masak untuk adik-adikku, aku tidak mungkin
membiarkan mereka kelaparan, beri aku jalan ya Allah, agar aku dapat member
makan adik-adikku.
(Ulong
berjalan-jalan keliling dapur untuk mencari bahan makanan, namun semuanya tidak
ada)
*)Betapa
sedihnya nasib mereka, tak ada satupun bahan makanan yang bisa dimakan, sampai
kapankah mereka harus kelaparan seperti ini??(*
Alang&Uteh :
Long!!, kami lapar, lapar long!!!
Ulong :
Ya, Ulong lagi masak ni, sabar ya dek!!
Emak :
Apa yang kau masak Long?
Ulong :
Maafkan Ulong Mak!!!, terpaksa Ulong harus menipu, ulong merebus batu untuk
menyenangkan hati adik-adik.
Emak :
Subhanallah..., Emak semakin merasa bersalah, gara-gara Emak kau harus menipu
seperti ini.
Ulong :
Sudahlah Mak, ini semua bukan kesalahan Emak, tapi ini memang sudah nasib
keluarga kita. Mudah-mudahan kita tabah menjalaninya Mak.
Emak :
Ya nak, kalau begitu Emak keluar dulu mencari pinjaman beras atau uang untuk
membeli kerak nasi, agar adik-adikmu bisa makan, kau tunggu saja dirumah ya?!
Ulong :
Ya, Mak.
Alang&Uteh :
Kak Ulong!!!, cepat ya masaknya, kami sudah lapar ni.
Ulong :
Ya, Dek!!
Ya Allah, apa yang harus aku lakukan, apakah aku jujur pada
adik-adikku. Berikan aku jalan ya Allah....
Ngah :
Long!apa yang kau masak itu? Aku lapar ni.
Ulong :
Kau tidak perlu tau, karena ini semua kulakukan agar Uteh dan Alang tidak
menangis.
(Uteh dan Alang
kedapur sambil menangis dan memegang perutnya)
Alang :
Long!!, lapar.........!, lapaaaar Long!!!
Uteh :
Perutku sakit Long, kapan kami bisa makan Long???
Ulong :
Sabar ya dek..!!, sebentar lagi makanannya siap, sebaiknya kalian tidur dulu,
bangun tidur baru kita makan.
(Ulong
menggiring adiknya ke kamar)
*)Untuk
mengelabui sang adik, Ulong pun terpaksa merebus batu, ia berusaha agar adiknya
tidak kecewa, karena tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak, tanpa terasa
Ulong dan adiknya pun tertidur. Detik berganti menit, dan menit pun berganti
jam, hari pun semakin larut, tiba-tiba Ulong tersadar.....(*
Ulong :
Masya Allah, hari sudah pagi, bagaimana dengan batu yang kurebus tadi malam ya?!
(Ulong kedapur
dan membuka tutup panci)
Ulong :
Airnya sudah kering, aku harus menambahnya lagi agar suaranya terdengar oleh
adik-adikku dan mereka bisa tenang mendengar suara itu.
Alang :
Ulong!!, sudah selesai masaknya???
Aku sudah lapar ni.
Uteh :
Ya Long, aku juga lapar ni..
*)Ulong semakin
bingung, ia tidak tahu apa yang seharusnya ia katakana pada adik-adiknya
sementara Ibunya belum juga pulangdari tadi malam, dan tak lama kemudian........(*
Ngah :
Long!! aku mau makan, mana makanan yang kau masak tadi malam???
Ulong :
Jangan Ngah!!, jangan kau buka panci itu,...!
Ngah :
Kenapa??, aku kan mau makan, perutku sakit.
Ulong :
Jangan dibuka, karena itu belum masak, sebentar lagi ya.....?!!!!
(Ngah mendekati
panci dan membuka tutupnya)
Ngah :
Apaaaa???!. Kau merebus batu. Sampai kapan pun tidak akan masak kalau yang kau
rebus itu batu. Dasar penipu....
Ulong :
Jadi aku harus ngapain??? Ini aku lakukan sambil menunggu Emak pulang.
Ngah :
Untuk apa kita menunggu Emak, mungkin Emak sudah asyik-asyik makan diluar sana.
Ulong :
Jaga mulutmu!, Emak sedang berusaha mencari makanan buat kita.
Ngah :
Alaaahh.. aku tidak percaya. Ulong berani bersumpah?
Ulong :
Jika Emak tidak berusaha untuk anaknya, Emak akan celaka, dan jika Emak
benar-benar berusaha untuk anaknya, maka kita akan berubah menjadi burung, agar
kita dapat terbang dan tahu bagaimana sulitnya mencari makan.
Ngah :
Ya. Aku tidak takut, karena aku yakin Emak pasti tidak akan kembali dengan
membawa makanan.
*)Haripun
berubah menjadi gelap, terlihat kabut dimana-mana, petir menyambar dengan
getirnya, entah apa yang akan terjadi(*
(Keempat anak
tertidur, dan terbanglah 4 ekor burung dirumah itu)
Emak :
Assalamu’alaikum, Ulong, Ngah, Alang, Uteh!! dimana kalian??
Mak dah pulang ni, lihatlah apa yang Emak bawa....
Emak bawa nasi bungkus yang enak buat kalian,,!!
(Salah serkor
burung berbicara: ........)
Ulong :
Mak, ini kami. Kami telah berubah menjadi burung.
Nagah :
Maafkan kami Mak.., kami sudah berburuk sangka sama Emak.
Alang :
Ya Mak, kami tidak sabar menanti kedatangan Mak.
Uteh :
Kami tidak pantas lagi menjadi anak Emak.
Emak :
Ya Allah, mengapa hal ini terjadi pada anak-anakku. Tapi jikalau dengan
kehendakmu ini mereka bisa bebas mencari makan dan mereka tidak akan kelaparan
lagi, maka aku ikhlas menerimanya.
Ulong :
Sudahlah Mak, jangan bersedih, kami akan tegar dan akan berusaha akan mencari
makan sendiri, agar bisa hidup lebih lama lagi.
(Burung terbang
dan meninggalkan rumah itu)
*)Akhirnya,
keempat anak itu berubah menjadi burung, burung itulah yang kemudian dikenal
dengan sebutan “IMBO KERO” atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah
“Burung Sri Gunting”. Sampai saat ini burung tersebut masih banyak terdapat
dibumi tamiang, bentuknya yang unik dan ekornya yang panjang sangat memikat
kera-kera, sehingga dalam sekumpulan kera pastilah ada burung tersebut. Itulah
sebabnya mengapa burung tersebut dijuluki “Imbo Kero”. Namun dizaman saat ini
keberadaan burung tersebut mulai langka karena kelestariannya tidak terjaga
dengan baik dan banyaknya pemburu liar(*
Demikianlah penampilan dari kami, banyak hal yang dapat
kita petik dari cerita tersebut. Diantaranya adalah : kesetiaan, kesabaran,
ketulusan dan kasih sayang sang bunda yang tiada henti-hentinya.
Mudah-mudahan
dengan penampilan tadi dapat member dorongan kepada adik-adik sekalian untuk
lebih mencintai saudara bahkan Ibunda kita tanpa ada prasangka buruk padanya.
Kami
mewakili seluruh pemain mengucapkan terima kasih atas segala perhatian dan mohon
maaf atas segala kekurangan.

Assalamu’alaikum
wr.wb.
Pendukung dan Panitia Berfoto
Bersama
|