SLB-C Provinsi Banten
home Kontak Kami Forum Diskusi Buku Tamu

MENU UTAMA

Home

Profile SLB

Pengantar Kepala Sentra PK & PLK

Sambutan Bapak Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten

Visi & Misi

Organisasi

Fasilitas

Program Layanan Pendidikan

Kegiatan diklat ket. Kriya Kayu

Program Ket.Tata Busana

Tata Boga

Program Tata Kecantikan

Photo Kegiatan

Sambutan Kepala BPPK

Profile Guru

Kunjungan

Sosialisasi

Product Workshop

SDM

Situs Terkait

Photo Porseni 2009

SERTIKOM 2010


KOMUNIKASI

Forum Diskusi

Buku Tamu

Milis

Kontak Kami



User ID.:

Password:
   


Cerita Rakyat

Kekayaan adat istiadat bangsa Indonesia tidak terhitung banyaknya, dan ini merupakan warisan yang perlu dipelihara seterusnya. Salah satu kekayaan tersebut tercermin dari sebuah cerita rakyat Aceh Tamiang yang hampir dilupakan.

Beberapa waktu yang lalu, pementasan cerita rakyat ini dimainkan oleh para siswa SLB Negeri Pembina Aceh Tamiang dalam acara Ajang Kreasi Pelajar Tamiang 2010.

Berikut Pertikan Cerita Tersebut.

Para pemain :

1.    Suminar            sebagai  Emak   Dubbing  by : T. Zuraidah

2.    T.Sari Novianti   sebagai  Ulong   Dubbing  by : Fauziah

3.    Candra Irawan   sebagai  Ngah    Dubbing  by : Hasan Bukhari

4.                           sebagai  Alang   Dubbing  by : Khairunnas

5.    Yolanda            sebagai  Uteh     Dubbing  by : Amy, S.Pd

 *)20 abad yang lalu disebuah desa terpencil hiduplah seorang Janda bersama 4 orang buah hatinya. Janda tersebut hidup dengan serba kekurangan tanpa harta maupun pusaka dari Almarhum suaminya. Hari-hari dilaluinya dengan kepedihan dan derai air mata untuk menafkahi ke 4 buah hatinya, ia harus pergi kehutan untuk mengumpulkan kayu bakar dan menjualnya kepasar(*

 Pada suatu hari..........

(di dalam rumah panggung kosong, Emak sedang bersiap hendak kehutan) 

Emak        : Ulong!!, sinilah sebentar, emak mau bicara.

Ulong        : ada apa mak?

Emak        : Begini, emak mau kehutan mencari kayu untuk dijual kepasar, tolong kau jaga adik-adikmu. Jangan biarkan mereka main kesungai. Jika mereka lapar tolong kau tumbukan kerak nasi yang yang diberi oleh Mak Andak, terus kau bubur saja dan berikan pada adik-adikmu.

Ulong        : Baik Mak, sampai kapan kita harus makan kerak nasi seperti ini Mak..??. kasihan adik-adik, mereka sering menanyakan mengapa kita tidak pernah makan nasi pakai ikan seperti anak Mak Andak..

Emak        : Emak juga bingung Long, setiap hari Mak kehutan tapi uang yang Mak dapat tidak cukup untuk membeli beras, makanya Mak selalu membeli kerak nasinya Mak Andak.

Ulong        : Ulong tau Mak, bagaimana kalau Ulong bekerja saja biar bisa membantu Emak.

Emak        : Jangan Long...., kau masih terlalu kecil, biarlah Emak yang bekerja, kau dirumah saja menjaga adik-adikmu. Sudahlah Long, tak ada habis-habisnya jika kita membicarakan derita ini, Emak berangkat dulu ya..........

Ulong        : Ya, Mak.

 

(Emak pergi menuju hutan, Ulong menumbuk kerak nasi didapur).

 

*)Sungguh malang nasib keluarga ini, setiap harinya mereka hanya makan bubur kerak nasi, derita yang mereka hadapi tidak tahu entah sampai kapan akan terhenti(*

 

Ngah        : Long! masak apa tu? Bubur kerak nasi lagi ya??. Duuhh..., aku bosan Long setiap hari makannya itu saja. Kenapa sih Emak jahat sama kita?

Alang        : Ya Long, pokoknya aku tidak mau makan bubur kerak nasi lagi.

Uteh         : (Menangis) Long!! lapar ni..., aku pengen makan nasi seperti mereka.

Ulong        : Adik-adikku, Emak sudah berusaha mencari uang buat makan kita, tapi uangnya tidak cukup, makanya Emak membeli kerak nasi agar kita bisa makan. Kita harus bersyukur, dengan demikian Allah akan menambah rezki buat keluarga kita.

Ngah        : Ah, Ulong bohong!sudah setiap hari aku bersabar tapi mengapa kita tidak kaya jugaseperti mereka??

Ulong        : Tidak boleh kau berkata seperti itu, Allah akan marah.

 

(Ngah pergi, Alang dan Uteh menangis sambil memegang perutnya)

 

*)Ngah memang kasar, tidak seharusnya dia berkata demikian, kasihan Ulong sudah susah ditambah lagi perlakuan kasar dari adik-adiknya(* (Ulong mengajak adik-adiknya makan, panggung kosong..)

 

*)Sementara itu Emak tanpa mengenal lelah, terus mengumpulkan kayu bakar dan menjualnya ke pasar(*

 Sesampai dirumah......

 

Emak        : Assalamu’alaikum......., Long, Ngah, Alang, Uteh... dimana kalian?? Emak sudah pulang ni..

 

(Alang dan Uteh berlari mendekati Emak, disusul dengan Ulong yang berjalan sambil memegang sapu)

 

Alang        : Mak!!, Alang kepingin makan buah apel...

Uteh         : Ya, Mak!,Uteh juga kepingin.

Emak        : Anakku sayang, bukannya Emak tidak mau membelikan kalian buah apel, hari ini saja Emak tidak dapat uang, mungkin hari ini kita tidak bisa makan.

Ulong        : Sudahlah Mak, jangan sedih, kami bangga kok dengan kerja keras Emak.

Ngah        : Apanya yang bangga!!, aku pengen jadi orang kaya, hidup  mewah seperti orang lain, tidak susah seperti ini.

Ulong        : Ngah!!, tidak pantas kau bicara seperti itu kepada Emak, cepat minta maaf!!!

Emak        : Sudahlah tidak apa, ini semua memang salah Emak, Emak tidak bisa membahagiakan kalian. Maafkan Emak anakku.

 

(Sambil menangis Emak membelai ke 2 anaknya yang masih kecil)

 

*)Haripun sudah senja, sedangkan didapur Ulong bingung harus mempersiapkan makanan apa buat adik-adiknya(*

 

Ulong        : Ya Allah, apa yang harus ku masak untuk adik-adikku, aku tidak mungkin membiarkan mereka kelaparan, beri aku jalan ya Allah, agar aku dapat member makan adik-adikku.

 

(Ulong berjalan-jalan keliling dapur untuk mencari bahan makanan, namun semuanya tidak ada)

 

*)Betapa sedihnya nasib mereka, tak ada satupun bahan makanan yang bisa dimakan, sampai kapankah mereka harus kelaparan seperti ini??(*

 

Alang&Uteh  : Long!!, kami lapar, lapar long!!!

Ulong          : Ya, Ulong lagi masak ni, sabar ya dek!!

Emak          : Apa yang kau masak Long?

Ulong          : Maafkan Ulong Mak!!!, terpaksa Ulong harus menipu, ulong merebus batu untuk menyenangkan hati adik-adik.

Emak          : Subhanallah..., Emak semakin merasa bersalah, gara-gara Emak kau harus menipu seperti ini.

Ulong          : Sudahlah Mak, ini semua bukan kesalahan Emak, tapi ini memang sudah nasib keluarga kita. Mudah-mudahan kita tabah menjalaninya Mak.

Emak          : Ya nak, kalau begitu Emak keluar dulu mencari pinjaman beras atau uang untuk membeli kerak nasi, agar adik-adikmu bisa makan, kau tunggu saja dirumah ya?!

Ulong          : Ya, Mak.

Alang&Uteh  : Kak Ulong!!!, cepat ya masaknya, kami sudah lapar ni.

Ulong          : Ya, Dek!!

                   Ya Allah, apa yang harus aku lakukan, apakah aku jujur pada adik-adikku. Berikan aku jalan ya Allah....

Ngah          : Long!apa yang kau masak itu? Aku lapar ni.

Ulong          : Kau tidak perlu tau, karena ini semua kulakukan agar Uteh dan Alang tidak menangis.

 

(Uteh dan Alang kedapur sambil menangis dan memegang perutnya)

Alang          : Long!!, lapar.........!, lapaaaar Long!!!

Uteh           : Perutku sakit Long, kapan kami bisa makan Long???

Ulong          : Sabar ya dek..!!, sebentar lagi makanannya siap, sebaiknya kalian tidur dulu, bangun tidur baru kita makan.

 

(Ulong menggiring adiknya ke kamar)

 

*)Untuk mengelabui sang adik, Ulong pun terpaksa merebus batu, ia berusaha agar adiknya tidak kecewa, karena tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak, tanpa terasa Ulong dan adiknya pun tertidur. Detik berganti menit, dan menit pun berganti jam, hari pun semakin larut, tiba-tiba Ulong tersadar.....(*

Ulong          : Masya Allah, hari sudah pagi, bagaimana dengan batu yang kurebus tadi malam ya?!

 

(Ulong kedapur dan membuka tutup panci)

Ulong          : Airnya sudah kering, aku harus menambahnya lagi agar suaranya terdengar oleh adik-adikku dan mereka bisa tenang mendengar suara itu.

Alang          : Ulong!!, sudah selesai masaknya???

                   Aku sudah lapar ni.

Uteh           : Ya Long, aku juga lapar ni..

 

*)Ulong semakin bingung, ia tidak tahu apa yang seharusnya ia katakana pada adik-adiknya sementara Ibunya belum juga pulangdari tadi malam, dan tak lama kemudian........(*

 

Ngah          : Long!! aku mau makan, mana makanan yang kau masak tadi malam???

Ulong          : Jangan Ngah!!, jangan kau buka panci itu,...!

Ngah          : Kenapa??, aku kan mau makan, perutku sakit.

Ulong          : Jangan dibuka, karena itu belum masak, sebentar lagi ya.....?!!!!

 

(Ngah mendekati panci dan membuka tutupnya)

 

Ngah          : Apaaaa???!. Kau merebus batu. Sampai kapan pun tidak akan masak kalau yang kau rebus itu batu. Dasar penipu....

Ulong          : Jadi aku harus ngapain??? Ini aku lakukan sambil menunggu Emak pulang.

Ngah          : Untuk apa kita menunggu Emak, mungkin Emak sudah asyik-asyik makan diluar sana.

Ulong          : Jaga mulutmu!, Emak sedang berusaha mencari makanan buat kita.

Ngah          : Alaaahh.. aku tidak percaya. Ulong berani bersumpah?

Ulong          : Jika Emak tidak berusaha untuk anaknya, Emak akan celaka, dan jika Emak benar-benar berusaha untuk anaknya, maka kita akan berubah menjadi burung, agar kita dapat terbang dan tahu bagaimana sulitnya mencari makan.

Ngah          : Ya. Aku tidak takut, karena aku yakin Emak pasti tidak akan kembali dengan membawa makanan.

 

*)Haripun berubah menjadi gelap, terlihat kabut dimana-mana, petir menyambar dengan getirnya, entah apa yang akan terjadi(*

 

(Keempat anak tertidur, dan terbanglah 4 ekor burung dirumah itu)

 

Emak          : Assalamu’alaikum, Ulong, Ngah, Alang, Uteh!! dimana kalian??

                   Mak dah pulang ni, lihatlah apa yang Emak bawa....

                   Emak bawa nasi bungkus yang enak buat kalian,,!!

 

(Salah serkor burung berbicara: ........)

Ulong          : Mak, ini kami. Kami telah berubah menjadi burung.

Nagah         : Maafkan kami Mak.., kami sudah berburuk sangka sama Emak.

Alang          : Ya Mak, kami tidak sabar menanti kedatangan Mak.

Uteh           : Kami tidak pantas lagi menjadi anak Emak.

Emak          : Ya Allah, mengapa hal ini terjadi pada anak-anakku. Tapi jikalau dengan kehendakmu ini mereka bisa bebas mencari makan dan mereka tidak akan kelaparan lagi, maka aku ikhlas menerimanya.

Ulong          : Sudahlah Mak, jangan bersedih, kami akan tegar dan akan berusaha akan mencari makan sendiri, agar bisa hidup lebih lama lagi.

 

(Burung terbang dan meninggalkan rumah itu)

 

*)Akhirnya, keempat anak itu berubah menjadi burung, burung itulah yang kemudian dikenal dengan sebutan “IMBO KERO” atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah “Burung Sri Gunting”. Sampai saat ini burung tersebut masih banyak terdapat dibumi tamiang, bentuknya yang unik dan ekornya yang panjang sangat memikat kera-kera, sehingga dalam sekumpulan kera pastilah ada burung tersebut. Itulah sebabnya mengapa burung tersebut dijuluki “Imbo Kero”. Namun dizaman saat ini keberadaan burung tersebut mulai langka karena kelestariannya tidak terjaga dengan baik dan banyaknya pemburu liar(*

 

Demikianlah penampilan dari kami, banyak hal yang dapat kita petik dari cerita tersebut. Diantaranya adalah : kesetiaan, kesabaran, ketulusan dan kasih sayang sang bunda yang tiada henti-hentinya.

 Mudah-mudahan dengan penampilan tadi dapat member dorongan kepada adik-adik sekalian untuk lebih mencintai saudara bahkan Ibunda kita tanpa ada prasangka buruk padanya.

Kami mewakili seluruh pemain mengucapkan terima kasih atas segala perhatian dan mohon maaf atas segala kekurangan.

 Assalamu’alaikum wr.wb.

Pendukung dan Panitia Berfoto Bersama